Alqur'an solusi semua masalah

1. Manusia bertanya : bolehkah aku frustrasi ?
- AL-QUR'AN menjawab : janganlah kamu
   bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling    tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman . (Q.S Ali Imran : 139 )

2. Manusia bertanya : kenapa aku diberi ujian seberat ini ?
- AL-QUR'AN menjawab : ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
   kesanggupannya. ( Al-Baqarah : 286 )

3. Manusia bertanya : kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
- AL-QUR'AN menjawab : boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh    jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, ALLAH mengetahui, sedang kamu    tidak mengetahui .(Q.S Al-Baqarah : 216 )

4. Manusia bertanya : kenapa aku diuji ?
- AL-QUR'AN menjawab : apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "      kami telah beriman ", sedang mereka tidak diuji lagi ? (Q.S Al-Ankabuut : 2 )
   Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang- orang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH    mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta .
   (Q.S Al-Ankabuut : 3 )

5. Manusia bertanya : bolehkah aku berputus asa ?
- AL-QUR'AN menjawab : Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tiada berputus    asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir . (Q.S Yusuf : 87 )

6. Manusia bertanya : bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini ?
- AL-QUR'AN menjawab : hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu    dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada
   ALLAH supaya kamu beruntung . ( Ali Imraan : 200 )

7. Manusia bertanya : bagaimana menguatkan hatiku ?
- AL-QUR'AN menjawab : cukuplah ALLAH bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya
   aku bertawakal . ( At-Taubah : 129 )

8. Manusia bertanya : apa yang kudapat dari semua ujian ini ? ~
- AL-QUR'AN menjawab : sesungguhnya ALLAH telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka . ( At-Taubah : 111 )

Maha Benar ALLAH Dengan Segala Firman-NYA

Category: 0 komentar

Diam itu emas, berkata baik adalah berlian

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutamaan Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin

Category: 0 komentar

Mudah menghafal Al Qur'an

Oke guys...
Judulnya sih bagus
"mudahkah menghafal qur'an?"
Nah loh... kan emang ngafalin qur'an itu mudah loh temen2, buktinya imam syafi'i sudah hafal qur'an sejak beliau umur 7 tahun, kemudian kalo zaman sekarang mungkin kita kenal Abu Musa atau lebih populer dengan nama Musa, dia terkenal setelah mengikuti program TV 'Hafidz Indonesia' yang sempat membawa nama baik Indonesia. Musa si bocah cilik penghafal qur'an itu ketika hafal 29Juz usianya belum genap 6tahun, tapi subhanalloh kemampuannya menghafal 29juz pada usia dini, membuat kita berdecak kagum dan bahkan iri.
Oh iya, kemudian Saya punya teman baru, alhamdulillah dia sudah hafal 25juz, uniknya.....
dulu saat  menempuh pendidikan SMP-SMA di Australia Dia tidak sedikitpun bertekad untuk menghafal qur'an 30juz ketika di australi... tapi yang jadi keinginan kuatnya bahwa dia harus hafal Juz30 (juz amma) ternyata Alhamdulillah biidznillah diapun sampai pulang ke Indonesia hanya hafal juz30 hehe...
Setelah balik alias pulang ke tanah kelahirannya Indonesia, dia ber-azam untuk membaca Al-qur'an setiap hari + terjemahnya, itupun dia masih belum terpikir dan bertekad untuk menghafal qur'an, yang dia inginkan setiap membaca qur'an+artinya dia mampu menghayati dan mendalami maknanya  (sambil tafakur mungkin) tidak terselip keinginan lain kecuali untuk memahami dan menghayatinya.. namun setelah beberapa kali khatam al-quran dia merasa aneh, karena setiap dia membaca kembali surat-surat al-qur'an dia sudah tidak asing lagi dengan ayatnya bahkan dia bisa tahu arti tiap ayatnya walaupun harus kembali menyocokan dengan terjemah, kemudian dia lanjutkan membaca dan membaca dengan tekad dan niat untuk sekedar memahami dan menghayati nya selama kurang dari 2tahun...
Wal hasil Subhanalloh dalam waktu kurang dari 2 tahun dia sudah hafal 25 Juz dan selama
itu dia tidak pernah mengkhususkan waktu untuk menghafal, hanya sekedar membaca... tapi ini jelas karunia dari Alloh yang besar.
Lah kitaaaa?? Hafal juz 30 aja udah bagus hehe...
Ternyata benar, bahwa Allah Swt. Akan memberikan pemahaman agama kepada setiap orang yang dikehendaki baik.
Dan memang Alloh telah memudahkan kita untuk mempelajari qur'an
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-
Qur'an untuk dipelajari, maka adakah orang
yang mengambil pelajaran."
[Al Qur'an Surat Al qomar Ayat 17]
Bahkan Allah Swt juga telah memudahkan Al-Qur'an untuk dihafal dengan menganugerahi manusia dengan Akal dan Struktur otak yang disusun dari 1triliun sel.
Maka kalau kita belum ingin memahami dan mempelajari Al-Qur'an pantaskah kita disebut berakal? Hehe..
Thoyyib,selesai :D
Semoga tulisan kami berikutnya bisa membahas "cara mudah menghafal Al-Qur'an"
Category: 0 komentar

ADAB DALAM BERDO'A I

ADAB BERDOA



Na'am akhii fiillah kita mulai belajar bagaimana tata cara berdo'a yang sesuai dengan Nabi Muhammad SAW.

Doa adalah ibadah yang paling utama di sisi Allah, karena doa merupakan bukti betapa lemah dan faqirnya manusia serta betapa gagah dan kayanya Allah swt. Allah membenci orang yang tidak pernah berdoa karena hal tersebut merupakan bentuk ketakaburan.

“ Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya". [Sunan At-Tirmidzi, bab Do'a 12/267-268]."

 Allah menjanjikan akan mengabulkan permohonan orang yang meminta kepadaNya, tentunya bila memenuhi adab dan syarat-syarat berdoa yang telah ditetapkan oleh syaari (Allah dan rasulNya) yaitu:

1. Memelihara diri dari perkara-perkara yang diharamkan, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah itu bersih, tidak akan menerima kecuali yang bersih.(H.R. Muslim)

 Sahabat Sa’ad bin Abu Waqqas pernah meminta kepada Rasul, “Wahai rasulallah doakanlah diriku supaya menjadi orang yang doanya diijabah!, maka Rasulullah saw. bersabda: Wahai Sa’ad bersihkanlah perutmu dari yang haram niscaya kamu menjadi orang yang doanya diijabah.
 ( Ibnu Katsir, I:254 )

Dua keterangan di atas menjadi dalil bahwa makanan yang halal merupakan salah satu syarat diterimanya doa dan ibadah, sedang makanan yang haram akan menjadi penghalang diijabahnya doa dan ibadah.

 2. Merendahkan suara (tidak berteriak) karena Allah itu Maha dekat. Seorang arab gunung bertanya kepada Nabi saw. “Wahai Rasulullah apakah Allah itu dekat hingga kami berbisik kepadaNya atau Allah itu jauh hingga kami mesti berteriak ( bila berdoa) kepadaNya?” Rasulullah saw. diam, lalu turunlah ayat:
 "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu…" Ibnu Katsir I:271
 Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Kami pernah berperang bersama rasulullah saw. dan setiap kami menaiki bukit atau menuruni lembah kami selalu berteriak mengucapkan takbir, lalu Rasulullah saw. menghampiri kami dan bersabda:
 "Hai manusia, sayangilah diri-diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli dan jauh, tidaklah kalian berdoa melainkan kepada yang maha mendengar dan maha melihat sesungguhnya yang kamu seru (Allah) lebih dekat kepada salah seorang dari kalian dari leher untanya... " Ahmad, Ibnu Katsir, I:254

3. Bersungguh-sungguh dalam berdoa, oleh karenanya hendaklah tidak menggunakan lafad (jika Engkau mau) dan tidak melagukan doa karena hal tersebut selain tasyabuh nasrani juga menggambarkan ketidakseriusan dalam berdoa, Rasulullah saw. bersabda:
 "Bila kamu berdoa maka bersungguh-sungguhlah dalam meminta, dan janganlah sekali-kali kamu berkata: Ya Allah jika Engkau mau maka berilah aku…" (H.R. Al Bukhari)

 4. Hiendaklah husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah, tidak putus asa dari rahmatNya dan yakin akan ijabah Allah, Rasulullah saw. bersabda:
 "..Bila kamu berdoa kepada Allah wahai manusia, maka berdoalah kepadaNya dengan keyakinan terhadap ijabahNya..." (H.R. Ahmad, II:177)
 Sufyan bin Uyainah berkata, “Janganlah perasaan berdosa menghalangi kamu dari berdoa, karena sesungguhnya Allah telah mengijabah permohonan mahluk terjahat yaitu iblis”. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman, “(kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh”. Q.S. Al Hijr:36-37, Al Qurtubi, II:209

 5. Janganlah meminta sesuatu yang diharamkan, juga jangan ber-isti’jal terhadap ijabahNya, Rasulullah saw. bersabda:
idak henti-hentinya Allah memenuhi permohonan seorang hamba selama dia tidak meminta yang haram atau sesuatu yang dapat memutuskan silaturrahmi atau memburu-buru diijabah. Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana memburu-buru diijabah itu?” Beliau menjawab, “Ia berkata, ‘Sungguh aku telah berdoa, sungguh aku telah berdoa tapi doaku tidak diijabah’.” Akhirnya orang itu malas dan tidak berdoa lagi. H.R. Muslim

 6. Walaupun berdoa tidak dibatasi oleh waktu, tapi hendaklah memilih waktu-waktu ijabah yang antara lain sepertiga malam akhir, Rasulullah saw. bersabda:

 "Allah tabaraka wa ta'ala setiap malam turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam akhir, Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu kemudian Aku mengijabahnya, siapa yang meminta kepadaKu kemudian Aku memberinya, siapa yang memohon ampunanKu kemudian Aku akan mengampuninya." (Al Bukhari:6321)

 7. Tidak disyari’atkan mengangkat tangan kecuali pada yang dicontohkan Nabi saw., antara lain ketika istisqa (meminta hujan). Anas berkata, “Seseorang masuk mesjid pada hari jum’at ketika Rasulullah saw. sedang khutbah, lalu orang itu berkata, ‘Ya Rasulallah, harta-harta ruksak dan jalan-jalan terbelah, berdoalah engkau kepada Allah supaya Ia turunkan hujan’, lalu Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya...” Demikian diterangkan dalam hadits riwayat imam Al Bukhari dan imam Muslim.

 8. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari diterangkan bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa sambil menghadap kiblat dan pernah pula beliau berdoa sambil membelakangi kiblat. Hadis tersebut menjadi dalil bahwa dalam berdoa tidak diisyaratkan sambil menghadap kiblat. Ibrahim bin Adham ditanya, “Kenapa kami ini, kami berdoa tapi tidak diijabah?” ia menjawab, “Karena 1. Kamu mengenal Allah tapi tidak mentaatiNya, 2. Kamu mengenal Rasul tapi tidak mengikuti sunahnya, 3. Kamu mengetahui Alquran tapi tidak mengamalkannya, 4. Kamu memakan nikmat Allah tapi tidak mensyukurinya, 5. Kamu mengetahui surga tapi tidak mencarinya, 6. Kamu mengetahui neraka tapi tidak menjauhinya, 7. Kamu mengenal setan tapi tidak memusuhinya bahkan mentaatinya, 8. Kamu mengetahui kematian tapi kamu tidak mempersiapkan bekalnya, 9. Kamu menguburkan mayat tapi tidak menjadikannya sebagai pelajaran, dan 10. Kamu tidak memperhatikan aib sendiri bahkan sibuk memperhatikan aib orang lain. Tafsir Al Qurtubi, II:208

Category: 0 komentar